Goharshad, Cahaya Gelimang Sejarah Pewakaf Perempuan
Minggu , 05/13/2018 - 17:22
aqr
Salah seorang pengajar Jamiatul Mustafa Al Alamiah menyinggung peran perempuan dalam membangun peradaban Islam dan menyebut Nyonya Goharshad sebagai cahaya gemilang dalam sejarah agung umat Islam dan perempuan pewakaf.
Salah seorang pengajar Jamiatul Mustafa Al Alamiah menyinggung peran perempuan dalam membangun peradaban Islam dan menyebut Nyonya Goharshad sebagai cahaya gemilang dalam sejarah agung umat Islam dan perempuan pewakaf.

Astan News melaporkan, Hujatulislam Hashemi Ozargani di seminar bertema "Budaya Razavi dan Nyonya Goharshad" yang diselenggarakan oleh Divisi Dokumen dan Media, Departemen Perpustakaan, Museum dan Pusat Dokumen, Haram Suci Razavi mengatakan, pribadi Goharshad adalah penghubung untuk semakin mempersatukan dan mengkoordinasikan dua wilayah geografi budaya dan sejarah, Afghanistan dan Iran di era modern.

Ozargani menjelaskan, meski muncul dualisme dalam sejarah, namu dua negara yaitu Iran dan Afghanistan memiliki ikatan peradaban dan sejarah, dan dengan memperhatikan peninggalan dan wakaf Nyonya Goharshad di dua wilayah ini, akan timbul perasaan bahwa Herat dan Mashhad adalah bagian dari satu budaya yang tak terpisahkan.

Pengajar Jamiatul Mustafa itu juga menyinggung upaya sebagian politisi dunia untuk memisahkan dua kebudayaan ini.

"Saat makam Nyonya Goharshad ditemukan di Herat dan ibunya di Haram Suci Razavi, artinya bahwa keduanya adalah satu dan memiliki kesamaan sejarah serta budaya yang sangat besar," ujarnya.

Menurutnya, penghargaan kepada seorang perempuan yang memiliki kedudukan seperti Nyonya Goharshad adalah sebuah narasi baru di masa kini terkait ketokohan seorang perempuan.

Ozargani menambahkan, mengkaji tokoh seperti Goharshad memunculkan peran penting perempuan dalam perkembangan kebudayaan Islam.

Hujatulislam Hashemi Ozargani menilai gerakan ini sebagai bentuk perlawanan terhadap propaganda Barat terkait citra perempuan dalam Islam yang di dalamnya perempuan hidup di tengah keterasingan sejarah dan tidak pernah melakukan langkah bersejarah.

Pengajar Jamiatul Mustafa itu menegaskan, kita umat Islam bertanggung jawab atas pandangan-pandangan menyimpang terkait perempuan dunia dan kita harus tetap berperan dalam sejarah mendatang, jika tidak maka kita tidak akan pernah menempuh jalan itu.

 
Sumber :
Kata kunci :