Idul Fitri, Hari Persatuan dan Solidaritas Muslim
Sabtu , 05/23/2020 - 21:39
Kegembiraan umat Muslim saat tibanya Hari Raya Idul Fitri bukan disebabkan karena berakhirnya bulan suci Ramadhan, namun dikarenakan mereka telah terbebas dari dosa-dosa dan seperti kata fitr, di hari ini mereka ibaratnya seperti dilahirkan kembali dalam kondisi suci tanpa dosa. Ramadhan bak tungku api yang membakar sifat-sifat tercela manusia dan kemudian terlahirlah manusia baru seperti burung phoenix yang hidup kembali dari debu. Sebab utama kegembiraan umat Muslim di hari ini adalah ia telah menemukan jati dirinya dan kembali ke fitrah suci.

Bau wangi Hari Idul Fitri menyeruak ke dalam rumah-rumah umat Muslim melalui pintu bulan Ramadhan. Idul Fitri adalah waktu mekarnya taman dalam hati dan jiwa mukmin. Selama satu bulan penuh berpuasa mereka telah membersihkan hatinya dan mengeluarkan keburukan dari jiwa mereka. Dan kini tiba saatnya mereka merayakan kemenangan ini. Idul Fitri, hari kembalinya manusia ke fitrah suci mereka. Orang mukmin sibuk memanjatkan puji syukur kepada Allah atas moment penting ini dan bergembira karenanya. Mereka yang selama Ramadhan berhasil mengekang hawa nafsunya akan mencapai derajat keimanan yang tinggi dan mengecap kenikmatan maknawi serta spiritual. Oleh karena itu, perayaan hari kemenangan ini disebabkan oleh keberhasilan mereka menggapai derajat yang tinggi ini.

Dengan tibanya bulan Syawal, tiba pula Hari Raya Idul Fitri. Umat Muslim dengan mengenakan baju yang bersih dan suci, berbondong-bondong menuju masjid atau lapangan guna menunaikan shalat Idul Fitri. Di hari ini, umat Islam dengan khusyuk memanjatkan pujian kepada Allah. Suara takbir pun menggema di mana-mana. Hari kemenangan ini ditandai dengan ibadah shalat idul fitri berjamaah. Wajah-wajah ceria, tua muda, kaya dan miskin terlihat di mana-mana. Mereka pun saling memaafkan atas kesalahan yang selama ini mereka perbuat.
Rasulullah Saw bersabda, "Hiasilah hari raya Idul Fitri dan Kurban dengan zikir
"?? ??? 
Rasul sendiri memberi contoh umatnya dengan mengucapkan puji-pujian seperti itu. Di hari raya Idul Fitri, Rasulullah mengenakan pakaian yang paling bagus yang beliau miliki, kemudian beliau memakai minyak wangi, baru kemudian menuju masjid untuk memimpin shalat Idul Fitri. Selama perjalanan beliau mengumandangkan tasbih ?? ???
Bahkan di antara khutbah serta sebelum dan sesudahnya kalimat ini beliau ulang.
Imam Ridha as, terkait sebab anjuran untuk banyak mengumandangkan takbir di hari Idul Fitri bersabda, "Takbir berarti mengagungkan Allah Swt dan bentuk rasa syukur atas petunjuk dan nikmat Tuhan."
Idul Fitri adalah hari raya massal dan diperingati di seluruh penjuru Dunia Islam. Jika di hari raya Idul Fitri, anda berada di negara Islam maka anda akan merasakan kegembiraan yang meluap-luap, yang meliputi negara tersebut. Umat muslim di hari ini diliputi kegembiraan dan kegembiraan ini mereka tularkan kepada yang lain. Sekali lagi, kegembiraan mereka bukan disebabkan berakhirnya bulan Ramadhan, namun dikarenakan mereka telah terbebas dari dosa-dosa dan terlahir kembali.
Idul Fitri di tahun ini di sejumlah negara muslim tidak seperti sebelumnya. Umat Islam di negara tersebut tidak dapat merasakan kegembiraan menyambut hari kemenangan ini, karena negara mereka dilanda krisis. Mereka tetap mengagungkan hari raya ini, namun tidak terdapat kegembiraan yang tampak di wajah mereka, pembagian kue lebaran pun tidak ada lagi. Api fitnah berkobar di negara Islam seperi Suriah, Mesir, Bahrain, Tunisia dan Afghanistan. Rakyat di negara tersebut sangat menderita.
Kondisi Palestina pun tak berubah. Negara ini masih dalam cengkeraman rezim ilegal Israel. Umat Islam di Afghanistan, Pakistan dan Irak belum juga terbebas dari ancaman serangan kelompok takfiri. Barat adalah pihak yang berada di balik kesengsaraan dan penderitaan umat Islam. Barat tidak menghendaki umat Islam hidup bebas seperti umat agama lainnya dan hidup dengan damai sesama saudaranya. Musuh sangat menikmati perpecahan antara Sunni dan Syiah. Mereka sangat geram atas kemuliaan dan keagungan umat Islam.

Umat Muslim setiap tahun di seluruh negara menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Misalnya di Suriah, sebelumnya rakyat negara ini menyambut datangnya hari raya dengan perayaan yang meriah. Mereka menghias kota dan rumah mereka, membeli pakaian baru dan membagikan kue kepada sesama saudaranya. Namun kini di sebagian besar kota Suriah, kelompok Takfiri gencar merusak rumah warga, membantai penduduk sipil yang tak berdosa serta mayoritas perempuan dan anak-anak Suriah hidup dalam pengungsian. Meski kondisi mereka memperihatinkan, namun mereka tetap menyambut datangnya hari kemenangan ini dengan tersenyum.
Ritual shalat Idul Fitri menunjukkan kekuatan dan keagungan umat Islam dan mampu membuat musuh terhina. Ritual akbar ini senantiasa menjadi sumber perubahan menentukan di tengah masyarakat muslim. Dalam kesempatan kali ini kami akan bawakan pelajaran berharga dari sejarah kehidupan suci Imam Ridha as dan sikap beliau saat menyambut hari raya Idul Fitri. Disebutkan bahwa para khalifahsejak bertahun-tahun menyelenggarakan ritual shalat Idul Fitri dan Kurban. Namun bentuk ritual ini di antara para khalifa sedikit demi sedikit mengalami perubahan dan semakin jauh dari tuntutan Rasulullah. Khalifahmenaiki kuda yang dihiasai perhiasan dari emas dan perak serta membawa pedang saat hendak menunaikan shalat Ied. Tentara pun mengiringinya dari belakang, seakan-akan mereka hendak maju ke medan perang. Kemudian mereka menuju tempat shalat Ied dan menunaikan shalat dua rekaat serta langsung pulang.

Saat pemerintahan KhalifahMakmun, ia memaksa Imam Ridha as untuk memimpin shalat Idul Fitri. Tujuan Makmun dalam hal ini adalah menaikkan citra pemerintahannya. Pada awalnya Imam menolak permintaan Makmun, namun karena khalifahterus memaksa akhirnya beliau memberikan syarat dan berkata, "Saya bersedia memimpin shalat Ied dengan syarat diberi kebebasan untuk menyelenggarakannya sesuai dengan tuntunan kakekku, Rasulullah dan Ali bin Abi Thalib.
Makmun nampak senang, dan menjawab, "Itu adalah hak Anda, lakukan apapun yang Anda inginkan." Pagi Hari Raya tiba. Seluruh pejabat istana, para pemimpin militer sampai rakyat kecil keluar dari rumah mereka dan bersiap menunaikan sholat Ied bersama Imam Ridha. Sudah menjadi tradisi masyarakat pada waktu itu, semua orang mengenakan pakaian yang baru dan bagus. Kuda-kuda mereka pun dihias dengan indah.

Sementara itu, di dalam tempat tinggalnya, Imam Ridha bersiap untuk menunaikan shalat Ied. Amalan beliau sama seperti yang dilakukan kakek-kakek hingga Rasulullah, berbeda sekali dengan kebiasaan para khalifah. Beliau mandi pada awal Subuh lalu mengikat kepala dengan semacam syal putih yang ujungnya diurai di depan dadanya dan ujung lainnya di antara pundaknya. Bajunya sangat sederhana berwarna putih bersih dan rapih. Beliau juga menggenggam tongkat yang berkepalakan besi. Imam juga mengangkat jubahnya agak tinggi dan menyuruh para sahabatnya untuk melakukan hal yang sama.
Tanpa alas kaki Imam keluar dan diikuti para sahabatnya. "Allahu Akbar, Allahu Akbar!" Imam berseru dengan suara keras, lalu diikuti para sahabat dan orang-orang sekitar. Para pejabat dan pembesar istana tertegun dan terkesan melihat penampilan Imam yang sederhana, tanpa alas kaki, dan khusyuk ingin menghadap Tuhannya. Penampilan beliau jauh dari penampilan mereka yang seperti berlomba memamerkan pakaian baru dan kemewahan. Buru-buru mereka turun dari kuda-kuda supaya tidak tertinggal rombongan Imam menuju lapangan.

Dalam sekejap, kota itu dipenuhi rombongan yang berjalan kaki menuju lapangan, sambil menyerukan suara takbir yang menggetarkan seisi kota. Di antara mereka ada yang menangis terharu. Mereka menyerukan takbir dengan semangat yang berkobar. Cara Imam Ridha beribadah pada hari itu menyadarkan mereka bahwa beribadah yang benar adalah dengan kesederhanaan, kekhusyukan, dan penuh semangat.
 
Sumber :
(IRIB Indonesia)
Kata kunci :