Al-Jawad:
Kedermawanan Ahlul Bait yang Terlupakan
Rabu , 03/04/2020 - 04:01
Dengan mempelajari kembali sejarah Islam, peran konstruktif Ahlul Bait as dalam memperkaya pemikiran Islam tampak begitu jelas. Ahlul Bait merupakan khazanah ilmu dan makrifat ilahi. Mereka adalah pasangan tak terpisahkan Al-Quran. Merekalah penafsir hakiki Al-Quran yang menjaga Al-Quran dan sunnah nabi dari berbagai penyimpangan dan bid'ah. Tiap kali kesucian agama terancam, Ahlul Bait as merupakan pihak pertama yang senantiasa bangkit mematahkan ancaman yang ada.
Tanggal 10 Rajab, merupakan hari kelahiran salah seorang tokoh utama Ahlul Bait as. Pada tanggal ini di tahun 195 H, Imam Muhammad Taqi Al-Jawad lahir di kota Madinah. Saudari Imam Ridha as., Hakimah mengisahkan, “Pada malam kelahiran Imam Al-Jawad, saudaraku (Imam Ridha) memintaku untuk berada di sisi istrinya. Ia melahirkan seorang bayi dengan selamat. Ketika lahir, bayi itu menatap ke langit dan bersaksi atas keesaan Allah dan kerasulan Muhammad. Aku yang menyaksikan peristiwa agung ini bergetar dan segera pergi menjumpai saudaraku dan menceritakan semua ini. Saudaraku berkata, “Wahai saudariku, Jangan engkau terganggu dengan peristiwa ini, engkau akan saksikan peristiwa yang lebih menakjubkan lagi”.
Di masa keimamahan Imam Jawad, lslam menyebar ke berbagai kawasan secara luas. Kondisi ini telah menyebabkan terbukanya peluang perpindahan pemikiran dari luar ke dalam kalangan umat Islam. Pada zaman itu juga terjadi berkali-kali dialog antara pemikir Islam dan non-Islam. Imam Jawad memainkan peranan yang sangat penting pada saat itu. Ia berhasil membimbing umat sekaligus mencegah terjadinya infiltrasi pemikiran-pemikiran luar yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Salah satu hadis dari beliau adalah, "Berpegang teguh kepada Tuhan adalah sebuah tangga untuk menuju derajat yang tinggi. Siapapun yang berpegang teguh kepada Tuhan, Tuhan pasti akan membebaskannya dari segala keburukan sekaligus menjaganya dari ancaman-ancaman musuh."
Periode kehidupan Imam Jawad as dipenuhi beragam peristiwa dan pasang surut. Beliau diusia sangat muda harus menerima Imamah (kepemimpinan atas umat Islam) setelah ayahnya gugur syahid. Imam Jawad juga termasuk imam yang tidak banyak dikenal. Ada dua alasan yang bisa disebutkan mengapa sosok Imam Jawad as kurang begitu populer dibanding imam-imam lainnya. Pertama, usia beliau yang singkat. Sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab sejarah, Imam Jawad menemukan kesyahidannya di usia muda, yaitu 25 tahun. Usia beliau yang singkat dibanding keberadaan imam lainnya, membuat beliau tidak begitu banyak berinteraksi dengan umat Islam dimasanya.
Meskipun usia beliau singkat, namun padat dengan aktivitas pencerahan dan bimbingan kepada umat, sehingga beliau banyak meninggalkan warisan ilmu yang begitu berharga. Jika para peneliti sejarah mengkaji dan menulis mengenai kehidupan dan warisan ilmu beliau, maka bisa dikatakan apa yang beliau wariskan dalam ilmu dan kebudayaan tidak kalah banyak dari para Imam lainnya. Hanya saja sayangnya, tulisan mengenai Imam Jawad memang masih kalah banyak dari para Imam lainnya, sehingga pengenalan mengenai kehidupan dan warisan keilmuan beliau yang tersebar di masyarakat pun sangat terbatas.

Kedua, tekanan dari rezim Abbasiyah. Karena adanya tekanan dan teror yang ditebar rezim Abbasiyah kepada siapapun yang menjalin interaksi dan kontak dengan Imam Jawad as, membuat beliau tidak banyak berhubungan dengan masyarakat muslim. Imam Jawad as hidup di masa pemerintahan Ma'mun dan Mu'tasim Abbasi dalam kondisi tertekan dan diberi batasan-batasan untuk menyebarkan ilmunya.
Imam Abu Jakfar Jawad as adalah orang yang paling bermurah hati dan paling banyak berderma. Karena kemurahannya terhadap orang lain itu, Imam sampai dijuluki al-Jûd (kedermawanan). Para sejarawan mencatat banyak riwayat mengenai kedermawanannya. Diriwayatkan para sejarawan bahwa Ahmad bin Hadid beserta rombongan pergi menunaikan ibadah haji. Tiba-tiba mereka diserang sekelompok penyamun. Harta mereka dirampok. Ketika mereka tiba di Madinah, Ahmad pergi menemui Imam Jawad. Ia menceritakan apa yang mereka alami. Lalu Imam menyuruhnya membawa sebuah kain dan ia pun diberi sejumlah dinar untuk dibagi-bagikan kepada rombongannya itu. Nilainya sama besar dengan apa yang dirampok dari mereka.
Dengan demikian, Imam telah menyelamatkan mereka dari cobaan. Dengan kedermawanan yang besar, Imam telah mengembalikan milik mereka yang hilang.
Kedermawanan Imam Jawad dan kebaikan hatinya meliputi semua makhluk, termasuk hewan. Muhammad bin Walid al-Kirmani meriwayatkan, “Aku makan di tempat Abu Jakfar as. Selesai makan, meja makan diangkat dan pelayan pun datang untuk membersihkan potongan-potongan makanan. Imam berkata kepadanya, “Tinggalkan apa pun di sahara meski sepaha domba. Imam menyuruhnya untuk meninggalkan makanan yang ada di sahara agar dapat dimakan burung dan semua hewan yang tidak mempunyai makanan.
Kemurahan hati dan kebaikan perbuatan terhadap manusia termasuk salah satu kedermawanan Imam Jawad dan sifatnya yang paling menonjol. Sejarah banyak menulis riwayat tentang kemurahan hatinya, yang antara lain: Ahmad bin Zakaria ash-Shaidalani meriwayatkan dari seorang lelaki asal Bani Hanifah, penduduk Bast dan Sajastan. Ia berkata, “Aku menemani Abu Jakfar Jawad pada tahun ketika Imam pergi haji di awal masa kekhalifahan Mu’tasim. Di depan meja makan, aku berkata kepadanya, “Tuanku, gubernur kami mengakui kepemimpinan kalian, Ahlulbait dan mencintai kalian. Namun, aku dibebani untuk membayar pajak. Sudikah Anda -semoga Allah menjadikan diriku sebagai tebusan untuk Anda- menulis surat kepadanya untuk bermurah hati terhadapku. “Aku tidak mengenalnya,” tegas Imam.
Aku mengatakan, “Tuanku, sebagaimana yang telah kukatakan, dia itu termasuk para pecinta Ahlulbait as. Dan, surat Anda akan bermanfaat bagiku. Imam mengabulkan dan menulis surat kepadanya. Setelah basmalah, Imam menyampaikan, “Amma ba’du! Sesungguhnya penyampai suratku ini menyebutkan sebuah kepercayaan yang indah tentang Anda. Tiada yang Anda lakukan melainkan perbuatan yang baik. Maka, berbuat baiklah terhadap saudara-saudara Anda. Ketahuilah bahwa Allah Swt akan meminta pertanggungjawaban Anda tentang amal perbuatan yang sekecil-kecilnya.
Sampai di Sajastan, sang gubernur, Husain bin Abdullah an-Naisaburi, mengetahui bahwa Imam Jawad telah menulis surat kepadanya. Maka, ia pun menyambut kedatangan surat itu hingga dari jarak dua farsakh. Ia raih surat itu dan menciumnya. Ia juga menghormati lelaki tersebut dan menanyakan keperluannya. Maka, lelaki itu menyampaikan hajatnya. Sang Gubernur pun berkata kepadanya, “Anda jangan membayar pajak selama aku bertugas”. Kemudian Gubernur menanyakan pula tentang keluarganya. Lelaki itu menyampaikan jumlah keluarganya. Gubernur menyuruhnya agar mereka datang untuk bersilatuhrahmi. Semua itu berkat kasih-sayang Imam Jawad.
Kehidupan manusia-manusia suci Ahlul Bait as merupakan teladan bagi seluruh umat Islam. Kehidupan mereka meski dipenuhi pahit dah getir akibat kezaliman para penguasa yang takut akan keberadaan mereka, namun begitu masih menyisakan ajaran dan teladan berharga bagi kita semua. Dalam hal ini, kehidupan yang relatif singkat Imam Jawad as pun tak lepas dari koridor ini. Sisi kedermawanan beliau yang kita nukil dalam berbagai kisah kehidupan beliau merupakan contoh bagi umat Islam yang mulai pudar rasa solidaritas mereka terhadap sesama saudaranya.
Pesan-pesan dan ajaran yang diajarkan manusia Suci dari Ahlul Bait Nabi selama hayat mereka patut untuk direnungkan dan diterapkan dalam kehidupan umat Muslim. Mereka inilah mentari Ilahi yang menerangi alam semesta, tanpa keberadaan mereka alam akan gelap gulita dan manusia akan tersesat. Keberadaan mereka di bumi sebagai hujjah Ilahi. Risalah berat untuk membimbing umat supaya tidak tersesat berada di pundak manusia-manusia suci ini.
Sifat dermawan yang merupakan salah satu ajaran Islam, tersemat kuat dalam pribadi Imam Muhammad Taqi al-Jawad. Imam inilah yang menjadi simbol kedermawanan bagi umat Islam, sifat yang mulai pudar dan dilupakan oleh mereka yang mengaku sebagai pengikut Muhammad Saw. Solidaritas dan keperihatinan menyaksikan penderitaan umat manusia dengan baik telah ditanamkan oleh Rasulullah Saw selama beliau mengemban risalah Ilahi. Namun sepeninggal beliau, nilai-nilai ini mulai luntur dan perlu ada sosok yang mengajak manusia untuk kembali menerapkan nilai-nilai luhur ini. Dan Imam Jawad as adalah sosok yang mengingatkan kembali umat Islam akan ajaran Ilahi ini.
Di akhir pertemuan kita hari ini, kami ingin mengingatkan kepada Anda sebuah wasiat Imam Jawad as. Beliau berpesan, "Jiwa dan seluruh harta kita adalah anugerah Allah yang sangat berharga dan pinjaman dari-Nya yang telah dititipkan (kepada kita). Segala yang dianugerahkan kepada kita adalah pembawa kebahagiaan dan kesenangan, dan segala yang diambilnya (dari kita), pahalanya akan tersimpan. Barang siapa yang kemarahannya mengalahkan kesabarannya, maka pahalanya telah sirna. Dan kami berlindung kepada Allah dari hal itu".(IRIB Indonesia)
 
Sumber :
Kata kunci :