Marvi: Tahun Ini Budaya Husseini Dihidupkan dengan Bantu Fakir Miskin
Jumat , 08/21/2020 - 21:22
Marvi: Tahun Ini Budaya Husseini Dihidupkan dengan Bantu Fakir Miskin
Perwalian Haram Suci Razavi mengatakan, bulan Muharam tahun ini kita menghidupkan budaya Aba Abdillah as dengan manuver kasih sayang, dan membantu fakir miskin.

Astan News melaporkan, Hujatulislam Ahmad Marvi, Kamis (20/8/2020) petang di hari terakhir bulan Dzulhijjah dan menjelang bulan Muharam, dalam ritual tradisional "izin Azadari" atau acara duka, dengan memperhatikan protokol kesehatan, berada di tengah sejumlah pelayan dan peziarah Makam Suci Imam Ridha as di Halaman Enghelab Eslami, dan menyinggung tentang pembatasan-pembatasan akibat wabah Virus Corona.

Hujatulislam Ahmad Marvi menuturkan, sungguh disesalkan pembatasan-pembatasan berziarah ke tempat suci, kelompok-kelompok keagamaan dan acara duka yang diterapkan telah membuat semua orang bersedih, siapapun dia meski kecintaannya pada Ahlul Bait as paling sedikit dari yang lain, akan sangat sulit dan berat menghadapi kondisi ini.

Ia menambahkan, Muharam tahun ini acara duka Asyura dan pembatasan menyelenggarakan acara keagamaan, telah menambah kesedihan para pecinta Ahlul Bait as, tapi Muharam tahun ini acara duka cita tetap harus dilaksanakan, dan nama Aba Abdillah as, tidak boleh luntur, tapi para pecinta Imam Hussein as harus berhati-hati, dan berperilaku sedemikian rupa sehingga musuh tidak bisa mengatakan umat Islam dan Syiah tidak selaras dengan logika.

Perwalian Haram Suci Razavi menjelaskan bahwa Islam adalah agama rasional, dan logis. Ia menekankan urgensitas kepatuhan pada protokol kesehatan dalam menyelenggarakan acara duka atau Azadari. Tahun ini, katanya, acara-acara duka harus dilaksanakan secara meriah, dengan tetap mematuhi secara penuh aturan kesehatan, masalah penting ini sangat bisa dilakukan. Kita tidak boleh membiarkan musuh menciptakan jurang antara agama dan rasionalitas, sejumlah orang ingin memisahkan keduanya.
 
Menurut Ahmad Marvi, masyarakat dan pecinta Imam Hussein as harus berhati-hati, jangan biarkan sejumlah orang membenturkan acara duka dengan kesehatan, Muharam tahun ini harus menjadi bukti terselenggaraanya acara duka dengan tetap mematuhi secara penuh protokol kesehatan demi menjaga keselamatan masyarakat.
 
Menghidupkan Budaya Aba Abdillah as dengan Membantu Orang Miskin

Hujatulislam Ahmad Marvi menyebut upaya membantu orang miskin, dan mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan merupakan salah satu indikator utama teladan kehidupan Imam Hussein as, dan dengan mengutip salah satu hadis dari Imam Hussein as yang menyebutkan kebutuhan masyarakat kepada Anda adalah di antara nikmat Tuhan, Marvi menuturkan, banyak keluarga terhormat yang memiliki pekerjaan, dan tidak pernah meminta bantuan orang lain, hari ini karena kondisi khusus wabah Virus Corona, harus berhadapan dengan kesulitan hidup, maka dari itu Muharam tahun ini kita menghidupkan budaya Imam Hussein as dengan membantu fakir miskin. 

Ia menambahkan, membantu orang miskin adalah tanda ajaran Imam Hussein as, setiap orang miskin dan membutuhkan yang masuk ke kota Madinah, dan meminta-minta kepada orang lain, akan ditunjukkan jalan ke rumah Imam Hassan dan Imam Hussein as, dan tidak ada seorang miskinpun yang mengunjungi rumah dua orang agung ini, lalu pulang dengan tangan kosong.

Kepada kelompok-kelompok keagamaan, Ahmad Marvi mengatakan, tahun ini dengan adanya berbagai pembatasan dalam pembagian makanan gratis, dan nazar, kelompok-kelompok keagamaan tidak bisa menggelar acara nazar atau pembagian makanan seperti tahun lalu, Anda bisa membagikan makanan nazar kalian dalam bentuk makanan mentah, ditambah bantuan kesehatan secara terhormat atas nama dan di bawah bendera Imam Hussein as, kepada orang-orang yang membutuhkan.
 
Asyura, Aliran dan Kebangkitan yang Terus Hidup Sepanjang Sejarah

Hujatulislam Marvi menjelaskan, Asyura bagi seluruh pejuang jalan kebenaran adalah hakikat dan kebebasan, dan kompas, teladan, contoh serta indikator luar biasa bagi semua orang yang mencari kemuliaan manusia dan kebahagiaan abadi.

Perwalian Haram Suci Razavi menilai tanggung jawab para pecinta Imam Hussein as dalam menjaga warisang agung dan mulia Asyura, sangat berat. Menurutnya, para pecinta Aba Abdillah as memikul tanggung jawab yang sangat berat dalam menjaga budaya dan ajaran Asyura.

"Mengikis kebodohan, mengenal musuh pada waktu yang tepat, keberaniaan dalam mengambil keputusan sulit dan determinan, melawan penindasan, perlawanan di hadapan Thogut dan Muawiyah zaman ini, di antara pesan inti gerakan Imam Hussein as," imbuhnya.

Hujatulislam Marvi melanjutkan, kelompok-kelompok keagamaan, dan acara duka Imam Hussein as harus tetap diselenggarakan secara meriah bersamaan dengan kesadaran dan makrifat. 

Kemeriahan Acara Duka Bersama Kewaspadaan

Perwalian Haram Suci Razavi menjelaskan, acara duka Imam Hussein as harus diselenggarakan secara meriah setiap tahun, dan tidak boleh hanya bergantung pada rasa dan kemeriahan, karena Asyura adalah sebuah aliran yang membawa pesan, dan kita harus menjadi orang yang mentransfer pesan kehidupan Imam Hussein as kepada generasi baru, dalam acara-acara duka ini.

"Budaya Imam Hussein as dan ajaran Asyura harus tampak dalam kehidupan dan perilaku para pecinta Imam Hussein as. Imam Hussein adalah pencipta Asyura, dan beliau telah menuliskan definisi terbaik di dahi para pecintanya, Imam Hussein dalam surat wasiatnya kepada Muhammad bin Hanafiah berkata, saya bangkit demi memperbaiki umat kakekku, dan menegakkan amar makruf dan nahyi munkar," paparnya.

Imam Hussein Gugur karena Kebodohan Umat

Hujatulislam Ahmad Marvi menyebut pemerintahan Bani Umayah dibangun di atas kebodohan masyarakat, dan mereka memanfaatkan sebesar-besarnya kebodohan tersebut. Menurutnya, kebodohan masyarakat ini yang menjadikan Muawiyah sebagai penguasa, dan kebodohan itu juga yang menyebabkan Imam Hussein as gugur di hari Asyura.

Perwalian Haram Suci Razavi menganggap perbaikan pemikiran masyarakat, dan kepercayaan keliru yang selama bertahun-tahun merasuki pikiran masyarakat, dan telah melahirkan Yazid bin Muawiyah yang mengaku sebagai khalifah Rasulullah Saw, sebagai tujuan utama kebangkitan Imam Hussein as. Menurutnya, Aba Abdillah as bangkit agar masyarakat terbebas dari kebodohan dan kesesatan yang menyebabkan penyimpangan Islam, dan dengan cara ini ia mereformasi masyarakat.

Hujatulislam Ahmad Marvi bertanya, apakah dengan terkuburnya Yazid dan musnahnya keturunan Bani Umayah, gerakan kebatilan, anti-agama dan anti-Islam hakiki juga ikut musnah atau tetap tinggal ? Menurut Marvi, kenalilah Imam Hussein as yaitu kenalilah siapa wakil Islam Bani Umayah saat ini, mengapa Asyura terjadi dan apa kewajiban kita, apa yang harus kita lakukan agar menjadi Husseini, dan bagian dari sahabat Imam Hussein as.

Sumber :