Warga Mashhad Demo Kecam Penghinaan Nabi Muhammad Saw
Jumat , 09/11/2020 - 23:03
Warga Mashhad Demo Kecam Penghinaan Nabi Muhammad Saw
Masyarakat kota Mashhad dari berbagai lapisan, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, menggelar unjuk rasa di kompleks Makam Suci Imam Ridha as, mengutuk penghinaan yang dilakukan majalah Prancis Charlie Hebdo terhadap Nabi Muhammad Saw, dan mengecam aksi brutal media cetak Prancis itu.

Astan News melaporkan, para ulama, pelajar agama, keluarga syuhada, dan masyarakat kota Mashhad berkumpul di Halaman Masjid Jami Ghoharshad, kompleks Makam Suci Imam Ridha as, untuk memprotes penghinaan yang dilakukan majalah Prancis, Charlie Hebdo, dengan menerbitkan kembali karikatur menghina Nabi Muhammad Saw, dan melecehkan nilai-nilai luhur Islam, serta akidah sekitar 2 miliar umat Islam. Para peserta aksi menyebut aksi media Prancis itu memalukan.
Dalam aksi yang turut dihadiri oleh Perwalian Haram Suci Razavi, Hujatulislam Ahmad Marvi ini, Direktur Hauzah Ilmiah seluruh Iran Ayatullah Alireza Aarafi menyampaikan orasinya, selain mengecam aksi anti-kemanusiaan Charlie Hebdo ia menuturkan, Nabi Besar Muhammad Saw adalah teladan sempurna bagi umat manusia, dan sejak awal kenabian, beliau selalu menjadi korban penghinaan, aksi majalah Prancis ini kembali membuktikan dalamnya dendam kubu penjajah terhadap Islam.
Ia menambahkan, Muslim punya kewajiban terhadap para pemuka agama, dan kewajiban ini terhadap tokoh semacam Nabi Muhammad Saw, dan pemimpin agama, lebih penting dan lebih berat.
Direktur Hauzah Ilmiah seluruh Iran menjelaskan, Nabi Muhammad Saw adalah perwujudan manusia sempurna, dan kewajiban pertama kita terhadap Al Quran dan Nabi Muhammad Saw adalah mengenal simbol-simbol agama, dan ajaran Al Quran.
Ayatullah Aarafi menyebut kecintaan kepada Nabi Muhammad Saw adalah kewajiban kedua umat Islam. Menurutnya, kecintaan kepada wali Allah akan mengatarkan manusia ke masa depan terbaik. 
Lebih lanjut ia menjelaskan, ziarah, tawasul dan tabaruk kubur Ahlul Bait as merupakan satu lagi kewajiban umat Islam dalam menjaga nilai-nilai Ilahi. Dalam hadis disebutkan, ziarah kepada Ahlul Bait as akan menutup semua pintu keraguan.
Direktur Hauzah Ilmiah Iran melanjutkan, menggelar unjuk rasa untuk memprotes penghinaan yang dilakukan Barat dengan bersandar pada rasionalitas manusia, dan dengan tujuan menjaga nilai-nilai agama, juga merupakan kewajiban umat Islam.
“Musuh Islam harus tahu, Muslim tidak akan diam menyaksikan penghinaan terhadap simbol-simbol Ilahi, dan akan melawan aksi semacam ini dengan bersandar pada akal, dan logika,” ujarnya.
Sementara itu, Perwalian Haram Suci Razavi, Hujatulislam Ahmad Marvi menilai penghinaan terhadap wujud suci Nabi Muhammad  Saw dengan dalih kebebasan berpendapat, sama seperti barbarisme, dan amoralitas. Kepada para pengklaim pembela kebebasan berpendapat di negara-negar Barat, Ahmad Marvi menjelaskan, jika memang benar mereka meyakini kebebasan berpendapat, maka seharusnya mereka juga menerapkan prinsip itu pada kasus Holocoust, tapi mengapa terkait Holocaust, mereka tidak menerapkan prinsip kebebasan berpendapat ?
Di sela unjuk rasa warga Mashhad mengecam penghinaan terhadap Nabi Muhammad Saw yang digelar di kompleks Makam Suci Imam Ridha as dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, kepada wartawan Ahmad Marvi menuturkan, Allah Swt di salah satu ayat Al Quran berfirman, sejumlah orang kafir, dan mereka yang tersesat berusaha mematikan cahaya hidayah, namun hal ini tidak akan pernah terjadi.
Ia menambahkan, sepanjang sejarah baik di masa hidup Nabi Muhammad Saw, maupun pasca wafatnya beliau, selalu adalah gerakan-gerakan penyesatan, penyimpangan dan pengkafiran yang dengan menggunakan berbagai media, berusaha merusak citra Nabi Agung Islam Saw.
Perwalian Haram Suci Razavi menjelaskan, gerakan-gerakan penyesatan hari ini juga berusaha merusak citra Nabi Muhammad Saw namun tidak pernah berhasil. Orang-orang dan gerakan semacam ini hanya melelahkan diri sendiri, karena berdasarkan janji Ilahi di dalam Al Quran, Tuhan akan menjaga cahaya-Nya.
Hujatulislam Marvi mengecam penghinaan yang dilakukan majalah Prancis, Charlie Hebdo terhadap Nabi Muhammad Saw dan mengatakan, baru-baru ini Presiden Prancis mengatakan, dengan alasan kebebasan berpendapat, kami tidak bisa mengecam aksi ini, logika mana yang bisa membenarkan bahwa atas nama kebebasan berpendapat, seseorang bisa menghina simbol keutamaan, dan kesucian sekitar dua miliar umat Islam dunia.
Ahmad Marvi menjelaskan, langkah semacam ini selain bukan bentuk kebebasan berpendapat, ia bahkan merupakan bentuk nyata barbarisme, dan amoralitas. Logika mana yang mengizinkan seseorang menghina sekitar 2 miliar umat Islam yang mencintai Nabi Muhammad Saw ?
Perwalian Haram Suci Razavi kepada para pengklaim pembela kebebasan berpendapat di negara-negara Barat mengatakan, jika benar kalian meyakini prinsip kebebasan berpendapat, lalu kenapa pada kasus Holocaust kalian tidak menerapkan prinsip ini, dan mengapa tidak menjelaskan tentang masalah yang masih penuh pertanyaan ini. Kenyataannya, Zionisme menutupi wajah keji mereka dengan topeng ketertindasan, dan menciptakan sesuatu bernama Holocaust.
Ia menegaskan, saat ini tidak ada seorangpun di Barat yang berani melakukan penelitian terkait Holocaust, sampai sekarang banyak sejarawan, dan pakar yang dijebloskan ke penjara karena mempertanyakan berbagai sisi kasus ini, dan jumlah yang meninggal dalam peristiwa itu.
Hujatulislam Ahmad Marvi menerangkan, negara-negara Barat tidak pernah mengizinkan prinsip kebebasan berpendapat diterapkan pada kasus-kasus semacam Holocaust, tapi sebaliknya penghinaan terhadap kesucian Islam mereka perbolehkan atas nama kebebasan berpendapat, dan mereka tidak mengecam aksi semacam ini.
 

Sumber :