Peringatan 7 Hari Wafatnya KH Jalaludin Rakhmat di Makam Imam Ridha
Senin , 02/22/2021 - 9:44
Peringatan 7 Hari Wafatnya KH Jalaludin Rakhmat di Makam Imam Ridha
Peringatan hari ketujuh meninggalnya KH Jalaludin Rakhmat, salah satu tokoh Syiah Indonesia, yang juga Ketua Dewan Syuro Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia, IJABI, digelar di kompleks Makam Suci Imam Ridha as, Minggu (21/2/2021) pagi.

Astan News melaporkan, acara yang diselenggarakan atas kerja sama Divisi urusan Peziarah Non-Iran, dan Divisi Luar Negeri, Departemen Ilmu dan Budaya, Haram Suci Razavi, berlangsung hari Minggu pagi di Serambi Darul Rahmah, dihadiri oleh Wakil Perwalian Haram Suci Razavi, Mostafa Khaksar Ghahroudi, pengurus Makam Suci Imam Ridha as, dan sejumlah warga Indonesia.

Acara ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al Quran, disusul dengan pembacaan doa ziarah Rajabiah, dan pembacaan pesan apresiasi dan terimakasih dari putra KH Jalaludin Rakhmat untuk penyelenggara acara ini.

Direktur Islamic Cultural Center, ICC Jakarta yang juga Wakil Wali Fakih di Indonesia, Dr. Abdol Majid Hakimollahi dalam acara ini menjelaskan proses masuknya Islam ke Asia Tenggara terutama ke Indonesia, dan aktivitas Dr. Jalaludin Rakhmat serta pengaruh beliau dalam menyebarkan ajaran Ahlul Bait as di Indonesia dan Asia Tenggara.

Dr. Hakimollahi menuturkan, kawasan Asia Tenggara yang dikenal sebagai Semenanjung Malaya, merupakan wilayah strategis dan menjadi perhatian sejumlah negara dunia. Sejak 4.000 tahun lalu hubungan dagang wilayah ini dengan Timur Tengah sudah terjalin, dan kunjungan para pedagang ini menyebabkan bangsa Iran dan Arab datang ke Semenanjung Malaya.

Hujatulislam Hakimollahi menerangkan, pada abad ketiga Hijriah, Islam masuk ke Semenanjung Malaya, dan menurutnya, Islam masuk ke wilayah ini disebabkan dua alasan yang berkaitan dengan Syiah, pertama penyebaran Islam di Semenanjung Malaya disebabkan oleh migrasi sebagian orang Syiah dari berbagai belahan dunia karena tekanan dan penindasan Dinasti Abbasiyah dan Bani Umayah.

Ia melanjutkan, alasan kedua masuknya Islam ke Asia Tenggara adalah kunjungan para pedagang Iran yang selain melakukan transaksi perdagangan, juga terlibat dalam pertukaran budaya dan selalu membawa ulama untuk mendakwahkan Islam.

Direktur ICC Jakarta menambahkan, orang-orang Syiah berkuasa di Semenanjung Malaya lebih dari 300 tahun, namun setelah wilayah ini dijajah oleh Belanda, Portugis, dan Inggris, mereka ditindas dan terpaksa bertaqiyah.

Di bagian lain pidatonya, Dr. Hakimollahi menyinggung pengaruh Revolusi Islam Iran dan Imam Khomeini di arena global.

Menurutnya, pengaruh terbesar Revolusi Islam Iran di arena internasional adalah tergantikannya ideologi-ideologi kebarat-baratan oleh ideologi Islam, dan munculnya simbol-simbol agama di tengah masyarakat, serta maraknya kecenderungan pada spiritualitas.

Dr. Hakimollahi kemudian menjelaskan figur dan aktivitas unggul almarhum KH Jalaludin Rakhmat dan menuturkan, ia belajar di Amerika Serikat, dan dipengaruhi gelombang Revolusi Islam Iran, setelah menjalin kontak dengan beberapa orang Iran, kemudian ia memutuskan mengganti mazhab dan menciptakan diskursus baru.

Wakil Wali Fakih di Indonesia itu mengatakan, Jalaludin Rakhmat mengajarkan serta menyebarkan pemikiran Imam Khomeini, Syahid Mothahari, dan Syahid Sadr di Indonesia, sehingga sejumlah banyak orang dari kalangan pemuda bergabung dengan dirinya, dan membentuk kelompok yang tercerahkan secara filsafat.

“Sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran, jumlah orang Syiah di Indonesia tidak sampai 100 orang, tapi berkat aktivitas KH Jalaludin Rakhmat yang menyebarkan pemikiran Imam Khomeini, kini jumlah orang Syiah di negara ini mencapai sekitar 2,5 sampai 4 juta orang,” paparnya.

Di antara prestasi KH Jalaludin Rakhmat adalah mendirikan Yayasan Muthahari, mendirikan sekolah mulai dari jenjang sekolah dasar hingga menengah atas, menerjemahkan seluruh buku karya Syahid Mothahari, Nahjul Balaghah, dan menulis kurang lebih 45 buku.

Hakimollahi menegaskan, KH Jalaludin Rakhmat sangat menekankan titik persamaan antara Sunni dan Syiah, ia memperkuat fondasi dan kemampuan ekonomi umat, menggunakan metode sosial baru, menyelenggarakan seminar-seminar ilmiah, menggunakan cara-cara keagamaan untuk mengajak orang menziarahi Makam Imam Ridha as, memanfaatkan kapasitas yang dimiliki ajaran Syiah, dan yang sejumlah banyak aktivitas berpengaruh lainnya.